Sabtu, 05 September 2015

Backpacking di Paris : Menyusuri Jejak Robert Langdon

Transportasi Amsterdam – Paris

Untuk pergi ke Paris, saya naik bis Eurolines (bis antar-negaranya Eropa). Tiket pulang pergi saya booking sekitar 2 minggu sebelum berangkat ke Belanda (alias satu setengah bulan sebelum saya ke Paris). Karena rentang waktunya masih lumayan lama, Alhamdulillah saya dapat lumayan murah, 41 Euro untuk tiket Pulang-Pergi nett. Saya pesan via situs eurolines.nl . Btw, situs eurolines ini tiap negara punya masing-masing. Contoh, di Perancis alamat situsnya adalah eurolines.fr . Cuma beda dot, tetapi harga yang ditawarkan bisa lumayan jauh berbeda ternyata . Waktu saya ngecek, di dot fr itu hampir satu setengah kali lipatnya yang di dot nl . Emang kudu rajin-rajin mbandingin kalau mau cari tiket paling murah, hehe. Sistem pembayarannya cuma bisa pakai kartu kredit. Berhubung saya gak punya, jadi nebeng punya teman.

Backpackeran ke Paris cuma bawa tas tangan kecil. Koper dan barang bawaan lain saya titipin semua di Bandara Schiphol biar nggak ribet (untuk sewa locker di sana, biayanya 7,5 Euro per locker per 24 jam). 

Sabtu, 29 Agustus 2015

Merayakan 70 Tahun Indonesia Merdeka di Negeri Belanda

Semenjak bekerja, setiap tanggal 17 Agustus saya selalu bersorak gembira karena selalu lolos dari jatah upacara bendera di kantor. Soalnya, di kantor pusat upacaranya lintas direktorat sehingga tidak memungkinkan kalau semua pegawai ikut serta. Solusinya, masing-masing bagian hanya diminta mengirimkan beberapa orang perwakilan. Berhubung di bagian saya mayoritas lelaki, maka sebagai perempuan saya selalu aman dari jatah upacara, bahkan sejak masih berstatus anak baru :P . Pokoknya, tiap libur 17 Agustusan itu jatah pulang kampung buat saya, hehehe.

Tapi tahun ini spesial. Saya bela-belain perpanjang waktu tinggal di Belanda, demi bisa ngerasain perayaan hari kemerdekaan di sini, di negeri yang dulu menjajah kita. Penasaran, seperti apa auranya.

Makin penasaran, ketika selama kelas Dutch Culture, beberapa kali histori penjajahan Belanda di Indonesia disebut-sebut. Ketika berbicara tentang hubungan 2 pihak, saya selalu tertarik mencoba mendengar dari 2 sisi. Cover both side. Ibaratnya, kayak ndengerin curhatan putusnya sahabat kita yang pacaran. Pasti adaaa aja yang beda antara cerita dari pihak cowok dengan dari pihak ceweknya kaaan? * jauh amat sih perumpamaannya, tapi iyain aja biar cepet :P .

Selasa, 25 Agustus 2015

Akhir Course dan Mulai Ngebolang


Karena Waktu Bukanlah Karet

Kalau ada satu keajaiban yang boleh saya minta, saya selalu berkhayal ingin punya kemampuan meng-elastiskan waktu. Pasti menyenangkan kalau momen-momen menyenangkan bisa kita ulur memanjang, seperti sebuah karet :D Sebelum berangkat ke Belanda saya sudah merasa kalau kemenangan di Holland Writing Competition 2015 merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar. Gimana gak besar? Jalan-jalan gratis ke Eropa sebulan full gitu lho hehehe. Setelah sampai di sini, setelah mengikuti course-nya, saya sadar kalau ini merupakan anugerah yang lebih daripada luar biasa. Banyak hal berharga yang saya dapat di sini yang leeebiiiih dari sekedar jalan-jalan gratis. Diskusi-diskusi seru dan penuh respek di kelas, teman-teman yang udah mulai berasa kayak saudara, plus hawa Utrecht yang sejuk banget bikin saya merasa berat ketika hari-hari akhir course semakin mendekat.

Kamis, 13 Agustus 2015, hari ujian akhir course. Bentuk ujiannya nggak jauh beda dengan ujian sebelumnya, jadi alhamdulillah saya cukup lancar mengerjakannya. Selesai ujian, seperti biasa kami sepakat buat masak dan makan malam bareng di salah satu flat. Sekitar jam 8 malam, kami mulai kumpul membawa bahan makanan masing-masing. Jadi,bahan makanannya ini emang kami beli patungan, tapi yang masak bergantian setiap malam. Kali ini yang dapat giliran masak adalah MK, Joo, sama Eric. Jangan bayangin kami masak menu-menu ala restaurant. Bukan soal spesialnya menu, melainkan kebersamaan berbalut joke-joke dan sharing ringanlah yang membuat acara makan malam ini selalu istimewa. Sedih banget makanya pas sadar kalo ini malam terakhir kami bisa masak dan makan malam bareng-bareng di dapur Cambridgelaan :( Selesai makan, kami ngobrol lamaaa banget. Di tengah-tengah obrolan, teman kami yang dari Meksiko, Paulina, ngelirik ke meja dapur dan ngeliat peralatan masak masih berantakan. Dia langsung inisiatif mau mulai nyuci piring. Eric, dengan gaya sok-sok bossy sambil cengar-cengir langsung negur, “Paulina, what are you doing? Back to your seat!”. Eric bener juga sih. Intinya, malam itu kita cuma pengen menikmati sisa-sisa waktu untuk bersama. Urusan cuci piring, biarlah nanti :’) .

Sabtu, 08 Agustus 2015

Simpelnya Halte Bus OV

Siang tadi, saat naik bus OV, saya melihat seorang penumpang perempuan naik bus membawa sepeda lipatnya. Sebenarnya, hal kayak gini lazim terjadi di sini. Di dalam bus OV, ada satu sudut dimana penumpang bisa meletakkan sepeda/trolley bayi, dan sudut itu dilengkapi semacam sabuk pengaman agar sepeda/trolley bayi itu tidak bergerak selama dalam perjalanan. Bukan baru sekali ini saya melihat ada penumpang yang melakukan hal tersebut. Tetapi, nggak tahu kenapa, tadi siang saya tiba-tiba langsung kepikiran gimana seandainya kita mau melakukan hal yang sama di bus Transjakarta. Mungkinkah? (Plis, jangan pasang backsound "mungkinkah... kita kan slalu bersama... walau terbentang jarak antara kita..." . Saya lagi serius... SE..RI..US... :P :P :P )


Emmm, jawabannya mungkin aja sih. Dengan syarat, petugasnya gak melarang. Soalnya, desain bus Transjakarta kan bukan kayak metromini yang udah penuh sesak sama kursi. Bagian tengah bus Transjakarta adalah ruang kosong, jadi kalo penumpang mau bawa sepeda 5 biji pun masuk-masuk aja, asal jangan di jam sibuk. Atau, boleh deh di jam sibuk, asal tahan menghadapi pelototan mata orang-orang yang seolah berkata "sepeda siapa sih nih? berani-beraninya ngambil ruang berdiri gue", wkwkwk. Masalahnya, untuk bisa masuk ke bus Transjakarta, si pembawa sepeda itu butuh usaha lebih. Dia harus berolahraga terlebih dahulu : ndorong sepeda naik ke atas jembatan penyeberangan, lalu ndorong lagi turun menuju halte busway :P

Trip to The Hague

Saat kita mengajukan pertanyaan, kota manakah yang menjadi ibukota Belanda, beberapa orang ada yang tidak yakin dengan jawabannya. Mereka ragu-ragu antara Amsterdam atau The Hague (alias Den Haag). Jawaban yang benar tentu saja Amsterdam. Namuuuun, wajar sih kalo orang ada yang berpikir The Hague adalah ibukota Belanda. Sebab, pusat pemerintahan Belanda memang berada di kota ini. Yup, Belanda adalah satu dari sedikit negara yang pusat pemerintahannya tidak berada di ibukota.

Nah, ceritanya, kemarin kelas kami mengadakan day trip ke The Hague! Tiap kali day trip begini saya pasti semangat. Marteen, dosen kami, selalu tahu spot-spot terbaik yang worth-it untuk dikunjungi di masing-masing kota. Nggak heran lah yaa, doi kan master sejarah dan sehari-hari memang ngajar di fakultas Humanities, Universiteit Utrecht :P . Jadi banyak detail-detail menarik yang dia tahu dan diceritain sepanjang perjalanan.

Kamis, 06 Agustus 2015

Kinderdijk : Wish You Also Were Here


Windmillsssss......
Teriakku kencang ketika melihat icon khas Belanda itu
Agak norak. Maklum, di Utrecht susah menemukan ini :P
Lebih dari 2 minggu di Belanda, baru kali ini aku melihatnya dari dekat
Itupun harus jauh-jauh ke Kinderdijk, sebuah desa dimana 19 kincir angin tua masih berderet kokoh

Segera ku ambil kamera
Klik, klik, klik
Send picture to my family
With the caption : "Aaaah. Wish you all were here.... Bagusss banget tempatnyaaaa!"

Senin, 03 Agustus 2015

Belajar Bikin Keju Tradisional Belanda



Siapa yang suka keju, cuuung !! Saya sukaa banget.

Makanya, pas sebelum berangkat ke Belanda ditawarin untuk ikutan acara tambahan workshop pembuatan keju tradisional di Gouda, saya semangat daftar. Acaranya diadain Sabtu, 1 Agustus kemarin. Biarpun teman sekelas saya nggak ada satupun yang ikut, saya tetep antusias berangkat. Toh, nanti juga di sana pasti ketemu temen baru ;)

Jam 09.30 pagi semua peserta diminta kumpul di Jaarbeursplein. Berhubung saya agak lemot dalam membaca peta (peta tradisional maupun google map :p), saya sengaja berangkat dari dorm lebih awal karena saya belum pernah ke daerah Jaarbeursplein itu. Ancang-ancangnya sih, di belakang stasiun Utrecht Centraal. Untungnya, langsung ketemu nggak pakai nyasar hehehe. Dan sesuai dugaan, belum ada satupun yang datang. Bisa foto-foto dulu nih :D .