Jumat, 03 Februari 2017

Jatuh Hati pada BTN Properti

Malam ini, saat sedang iseng mempelajari informasi mengenai properti, memori saya tiba-tiba terbang ke masa lalu. Dulu, semasa saya masih SD (Sekolah Dasar), saya ingat pernah diajari materi tentang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier pada mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Waktu itu guru saya menerangkan, kebutuhan primer meliputi sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (rumah/properti). Kebutuhan primer ini nih yang wajib pertama dipenuhi. Kalau belum terpenuhi ketiganya, guru saya waktu itu berpesan, jangan dulu memikirkan untuk membeli kebutuhan sekunder, apalagi tersier! Hmmmm, mari coba cek kondisi saya saat ini. Untuk kebutuhan primer berupa sandang dan pangan, Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa memenuhi sendiri, tidak perlu lagi merepotkan orang tua. Untuk kebutuhan papan (rumah/properti), masih perlu berjuang lebih keras lagi nih biar bisa segera terwujud. Di sisi lain, sudah ada beberapa kebutuhan sekunder dan tersier yang pernah saya beli. Wah, saya jadi sadar nih gagal melaksanakan amanat pak guru untuk mendahulukan kebutuhan primer, maafkan ya pak :)

Pembagian kebutuhan primer, sekunder, dan tersier yang disampaikan oleh guru SD saya nampaknya memang beberapa perlu disesuaikan dengan konteks perekonomian masa kini. Barang-barang yang dahulu sifatnya sekunder atau tersier, mungkin kini telah ‘naik kelas’ menjadi kebutuhan primer. Misal, air mineral dalam kemasan yang dulu merupakan kebutuhan sekunder, bahkan tersier untuk beberapa orang, kini telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan yang air tanahnya telah tercemar. Atau sebaliknya, ada beberapa kebutuhan primer yang kini ‘turun kelas’ menjadi kebutuhan sekunder. Contohnya, ya rumah. Lha koq bisa? Terus mau tinggal di mana sampai tua? Bisa, koq. Mereka hidup nomaden, pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, menuntaskan mimpi untuk bertualang menjelajah setiap sudut dunia. Terdengar seru, tapi saya gak senekad itu :)))) .

Sampai saat ini, saya masih menempatkan rumah sebagai kebutuhan primer. Bahkan, semakin dewasa saya semakin menyadari bahwa rumah memiliki arti yang jauh lebih penting daripada sekadar tempat berteduh. Pengalaman menjadi anak kos selama 9 tahun (sejak mulai kuliah sampai sekarang sudah bekerja dan kembali mendapat kesempatan untuk kuliah lagi) membuat saya menghayati, bahwa memiliki rumah sendiri merupakan impian yang layak diperjuangkan. Rumah adalah teritori pribadi, di mana kita bebas mengekspresikan selera kita, minat kita, dan bakat kita, tanpa perlu khawatir mengganggu orang lain. Rumah adalah tempat pulang, bagi kita, bagi keturunan kita, setelah lelah mengeksplorasi dunia. Sesederhana apapun sebuah rumah, ia memiliki banyak fungsi yang tidak akan pernah tergantikan, bahkan oleh kamar suite hotel sekalipun :’) .

Sebagai anak akuntansi yang bekerja di sektor publik, saya terbiasa dengan konsep value for money. Secara sederhana, konsep ini mengajarkan kita bahwa setiap kita akan melakukan pengeluaran harus dipertimbangkan secara cermat dengan memilih pilihan yang memberikan manfaat paling optimal dengan sumber daya yang paling ekonomis dan efisien. Nah, konsep ini cocok banget nih diterapkan ketika kita akan membeli aset, termasuk rumah. Jangan terburu-buru, kumpulkanlah informasi terlebih dahulu sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan akan membeli rumah di mana. Hal inilah yang akhir-akhir ini rajin saya lakukan : berburu ilmu tentang proses pembelian properti. Baaanyaaak banget aspek yang harus dipelajari terkait pembelian properti ini, mulai dari lokasi ideal, spesifikasi bangunan, legalitas dokumen tanah dan bangunan (gak lucu banget kan kalo baru beli rumah tiba-tiba digugat karena ternyata tanahnya sengketa :p ) , harga pasaran dan besaran kenaikan harganya per tahun, hingga pilihan KPR. Apalagi, saya berencana membeli rumah di Jabodetabek, yang persaingannya keras jenderal! Dengan bekal informasi terkait hal-hal tersebut, semoga saat dananya sudah tersedia saya berhasil mendapatkan rumah impian dengan mudah. Aamiin.

Beruntung saya hidup di era internet, di mana informasi bisa begitu mudah dicari. Tapi informasi di internet ini bisa jadi jebakan batman juga sih, banyak informasi yang validitasnya meragukan. Butuh usaha ekstra untuk menyaring sumber-sumber informasi yang terpercaya. Bahagianya saya ketika mengetahui bank tempat saya menabung, BTN (Bank Tabungan Negara) meluncurkan aplikasi BTNDigital Solution, yang di dalamnya terdapat fitur BTN Properti, sebuah portal yang berisi informasi mengenai pembelian properti. Sudah sejak lama, saya mengenal bank BTN sebagai bank yang paling konsisten memfokuskan diri pada segmen pasar kredit properti. Jadi, validitas informasi yang terdapat pada fitur BTN Properti tentu tidak perlu saya ragukan. Pengalaman profesional BTN sudah yang paling juara deh dalam urusan properti di negeri ini.

Berbekal keyakinan tersebut, saya mulai pelajari fitur-fitur di BTN Properti. Dan ternyata, fiturnya benar-benar lengkap kap kap kap dari A-Z mengenai properti, semua tersedia di sini. Waaahh, gak cukup sehari deh pantengin aplikasi BTN Properti ini :D . Biar ilmunya gak cepat hilang, berikut saya coba ulas fitur-fitur apa saja sih yang ada di sana. Siapa tahu ada pembaca juga yang sedang membutuhkan referensi tentang ini. Yuk, sama-sama belajar :) .

Fitur Pencarian Properti
Fitur pertama yang ada di BTN Properti adalah fitur pencarian properti. Fitur ini sangat mudah digunakan. Kita cukup memasukkan lokasi yang kita inginkan, lalu secara otomatis akan ditampilkan properti apa saja yang sedang dijual di lokasi tersebut, lengkap dengan spesifikasi dan harga masing-masing properti. Dengan memanfaatkan fitur ini, kita jadi bisa mendapatkan gambaran berapa harga pasaran properti di lokasi yang kita idamkan. Kita juga bisa membandingkan, antara properti A dengan properti B, spesifikasi bangunan dan fasilitas lingkungannya lebih bermutu yang mana. Tentu logikanya, semakin baik mutu dan desain bangunan akan semakin tinggi harganya. Tetapi terkadang ada juga developer yang mengecoh, memberikan harga yang tinggi dengan spesifikasi yang kurang baik. Semakin sering melakukan analisis perbandingan antar-properti, kita akan semakin jeli untuk menilai apakah harga properti tersebut sesuai dengan mutunya. Aplikasi BTN Properti ini memanjakan calon konsumen banget, cukup sentuh-geser layar handphone, kita sudah bisa melakukan analisis perbandingan harga properti di berbagai lokasi. Fitur ini juga terintegrasi dengan peta digital online, sehingga kita bisa langsung melihat di mana lokasi persisnya properti yang ditawarkan. Tidak seperti orang-orang tua kita di zaman dahulu yang harus langsung survei lokasi jika ingin mengetahui informasi seperti ini. Asyiknya lagi, semua properti yang boleh tampil di aplikasi BTN Properti ini hanya properti dari developer yang telah bekerja sama dengan Bank BTN. Tentu, untuk bisa menjalin kerja sama ini, ada proses seleksi terlebih dahulu yang dilakukan oleh Bank BTN. Dengan demikian, kita sebagai calon konsumen bisa merasa lebih aman ketika akhirnya memilih salah satu properti yang ditawarkan di sini, sebab developer-nya telah terjamin punya rekam jejak yang baik. Insyaa Allah, tidak akan ada kasus developer kabur sebelum rumah atau fasilitas umum tuntas dibangun.

Fitur Lelang Properti
Ini niih, fitur yang unik banget di BTN Properti. Fitur ini memungkinkan pengguna aplikasi untuk mengetahui daftar properti yang akan dilelang oleh Bank BTN. Kenapa bisa dilelang? Jadi, dulunya properti ini merupakan barang jaminan atas suatu kredit, namun si nasabah gagal bayar sehingga Bank BTN menyita properti tersebut dengan tujuan untuk dilelang kepada masyarakat umum. Penawaran awal untuk properti yang dilelang ini biasanya jauh di bawah harga pasar. Seperti peraturan lelang pada umumnya, peserta lelang yang memberikan penawaran harga tertinggi berhak membeli properti tersebut. Jika Anda tertarik mengikuti lelang ini, silahkan lihat jadwalnya di aplikasi BTN Properti, lalu ikuti prosedur pendaftarannya. Calon peserta lelang akan diminta membayar jaminan. Jaminan ini akan dikembalikan penuh jika peserta kalah dalam proses lelang.

Fitur Simulasi
Suka ngeri-ngeri sedap gak sih kalau lihat harga properti di Jabotabek sekarang? :D Pernah memikirkan gak, dengan penghasilan saya yang segini, berapa yaa nilai KPR yang maksimal akan disetujui oleh BTN? Saya dulu suka mikir gitu tuh. Untungnya, sekarang terbantu dengan fitur simulasi BTN. Di sini, saya cukup memasukkan penghasilan rutin per bulan, penghasilan pasangan (buat yang pasangaannya masih entah sekarang di mana seperti saya #eh, kolom ini bisa diisi dengan angka 0), serta jangka waktu kredit yang diinginkan (mulai dari 1-25 tahun), lalu klik hitung. Secara otomatis, muncul berapa harga properti maksimal yang bisa kita beli. Asyik ya, kita bisa lebih fokus dalam mencari properti pada rentang harga yang masih mampu kita jangkau.

Fitur Simulasi KPR
Fitur Simulasi KPR ini berbeda dengan fitur simulasi. Fitur Simulasi KPR berfungsi untuk menghitung besaran uang muka, biaya-biaya awal yang wajib dibayar saat akad KPR, serta cicilan per bulan. Caranya, pertama kita pilih dahulu apakah ingin memakai KPR BTN Konvensional atau KPR BTN Syariah. Jika kita memilih konvensional, maka kita akan diminta untuk memilih suku bunga anuitas atau flat. Selanjutnya, baik untuk konvensional maupun syariah, kita akan diminta untuk memilih jenis perumahan (subsidi atau non-subsidi), memasukkan harga properti, persentase uang muka, asumsi suku bunga per tahun (default-nya 8,75%), lama pinjaman, serta masa kredit dengan bunga tetap. Klik hitung, maka otomatis muncullah perkiraan uang muka dan biaya-biaya awal yang harus dibayar serta cicilan per bulan. Dengan memanfaatkan fitur simulasi KPR ini, saya jadi ‘ngeh’, oh ternyata biaya-biaya awal yang harus dibayar (di luar uang muka) itu totalnya lumayan besar juga ya, haha. Saya jadi paham, untuk amannya, siapkan dana 30% dari harga properti sebelum mengajukan KPR supaya cukup untuk membayar uang muka dan biaya ini itu, termasuk Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang belum tercantum dalam simulasi.

Fitur Pengajuan Online
Setelah menemukan rumah yang cocok di hati dan dana untuk uang muka telah siap, langkah berikutnya adalah mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ke bank. Saya belum pernah melewati fase ini sih, tapi bayangan saya pasti bakal memakan waktu cukup lama di bank karena banyak dokumen yang harus ditelaah untuk analisis kelayakan kreditnya. Menyediakan waktu yang cukup lama untuk berkunjung ke bank itu sungguh bukan hal yang mudah bagi pekerja kantoran seperti saya karena jam kerja bank sama dengan jam kerja saya. Eh eh ternyata hal ini gak perlu saya risaukan kalau akan mengajukan KPR ke BTN, karena BTN sekarang punya fasilitas pengajuan KPR secara online. Uyeee, Bank BTN ini mengerti bangeeett deh kebutuhan masyarakat urban yang menuntut kepraktisan dalam segala hal, termasuk dalam urusan pengajuan KPR. Langkahnya simpel, cukup isi data pengajuan, upload hasil scan KTP dan Slip Penghasilan, centang pernyataan persetujuan, lalu ajukan kredit. Selesai deh. Benar-benar sesimpel itu. Saya rasanya masih gak percaya dunia sudah sedemikian majunya hingga proses pengajuan KPR pun bisa kita lakukan sambil leyeh-leyeh di kamar, sentuh-geser handphone, tanpa ada kekhawatiran data yang kita upload akan disalahgunakan karena pengajuan online ini langsung ke aplikasi resmi BTN, bukan aplikasi pihak ketiga yang banyak beredar di internet itu :) . Oh ya, untuk fitur yang satu ini, tentu saya belum berani coba karena dana untuk DP-nya belum siap :p .

Fitur Konfirmasi Pembayaran
Apabila KPR kita telah disetujui, setiap bulan tentu kita wajib membayar cicilan tepat waktu. Untuk konfirmasi pembayarannya, tidak perlu repot-repot datang ke bank, karena BTN lagi-lagi memanjakan konsumennya dengan fitur konfirmasi pembayaran secara online di BTN Properti.

Fitur Komunitas
Sudah punya rumah? Selamaat :D Eh tapi yang namanya rumah tetap perlu dirawat supaya bisa kokoh berdiri sampai zaman cucu-cicit kita. Nah, untuk masalah perawatan ini, kita tentu butuh jasa-jasa dari para profesional. Mulai dari arsitek, desainer interior, tukang atap, tukang cat, tukang kebun, dan lain-lain. BTN Properti punya lho data-data para profesional ini, yang bisa dihubungi kapanpun kita memerlukan jasa mereka untuk mempercantik rumah. Ada juga fitur ask expert yang memungkinkan kita untuk berkonsultasi secara online dengan para profesional ini.

Fitur Blog
Blog di BTN Properti berisi artikel-artikel seputar properti yang disajikan dengan bahasa populer sehingga mudah dicerna oleh orang yang awam mengenai dunia properti seperti saya.

Selain kedelapan fitur di atas, masih banyak sebenarnya fitur-fitur lain di BTN Properti yang belum sempat saya ulik. Besok-besok mungkin akan saya lanjutkan berburu ilmu properti di aplikasi ini, karena saya terlanjur jatuh hati pada aplikasi BTN Properti. Tertarik untuk mencobanya juga? Anda bisa download di playstore atau apple store .

Well, aplikasi yang terpercaya untuk menemukan properti sudah berhasil saya temukan, kalau aplikasi yang terpercaya untuk menemukan jodoh ada yang tahu? :p :p :p

Jumat, 20 Mei 2016

Antara Buku dan Mimpi

 Thanks God It’s Friday. Kalo orang-orang biasanya mengucapkan itu karena besok libur, kalo saya karena hari ini libur. Rejeki anak sholehah, Alhamdulillah udah setahun ini ngerasain long-weekend nyaris sepanjang tahun :p . Libur berarti bisa kembali melanjutkan tidur setelah subuh. Biasanya sih cuma tidur ayam ya. Pagi ini, tumben-tumbenan saya sampe mimpi. Dan mimpinya itu indaaah banget. Indah di sini bukan berarti ketemu Song Joong Ki atau Lee Kwang Swo atau paket komplit Song Appa bareng ketiga tripletnya, tetapi saya mimpi nemu toko buku bekas yang guedeeee, penataan bukunya rapi, dan koleksinya itu lhoo : KECE! Di toko itu ada banyak bundle majalah bobo, Donald bebek, trio detektif, Agatha Christie. Aaaaakkk ini mah syurga buat saya. Terutama pas ngelihat majalah bobo dan Donald bebek, ini adalah kali pertama setelah belasan tahun yang lalu terakhir kali saya megang fisiknya. Duh, yang namanya cinta tuh ya, dikasih liat lagi lewat mimpi aja berasa seneng dan ngobatin kangen banget.
Bangun tidur senyum-senyum sendiri, hati serasa damai :’D.

Ngomong-ngomong soal cinta sama buku, saya sadar sih banyak orang yang bacaannya jauh lebih banyak. Ada yang setahun bisa sampai 100 buku, 200 buku, waahh kalo saya nyampe angka 50 buku aja jarang. Apalagi akhir-akhir ini, belum tentu sebulan saya namatin 1 buku lho. Tapi yang namanya cinta gak cuma dilihat dari jumlah ah. Walaupun aktivitas membaca saya sudah tidak ‘segila’ dulu, buku tetep punya tempat khusus di hati saya. Makanya, sedih banget pas beberapa waktu belakangan ini muncul berita tentang pemberedelan buku atau pembubaran diskusi buku. Ini udah abad ke 21, bentar lagi udah mau abadnya doraemon (abad 22), dan masih ada orang yang phobia sama buku itu rasanya kasihan banget kak.

Sabtu, 05 September 2015

Backpacking di Paris : Menyusuri Jejak Robert Langdon

Transportasi Amsterdam – Paris

Untuk pergi ke Paris, saya naik bis Eurolines (bis antar-negaranya Eropa). Tiket pulang pergi saya booking sekitar 2 minggu sebelum berangkat ke Belanda (alias satu setengah bulan sebelum saya ke Paris). Karena rentang waktunya masih lumayan lama, Alhamdulillah saya dapat lumayan murah, 41 Euro untuk tiket Pulang-Pergi nett. Saya pesan via situs eurolines.nl . Btw, situs eurolines ini tiap negara punya masing-masing. Contoh, di Perancis alamat situsnya adalah eurolines.fr . Cuma beda dot, tetapi harga yang ditawarkan bisa lumayan jauh berbeda ternyata . Waktu saya ngecek, di dot fr itu hampir satu setengah kali lipatnya yang di dot nl . Emang kudu rajin-rajin mbandingin kalau mau cari tiket paling murah, hehe. Sistem pembayarannya cuma bisa pakai kartu kredit. Berhubung saya gak punya, jadi nebeng punya teman.

Backpackeran ke Paris cuma bawa tas tangan kecil. Koper dan barang bawaan lain saya titipin semua di Bandara Schiphol biar nggak ribet (untuk sewa locker di sana, biayanya 7,5 Euro per locker per 24 jam). 

Sabtu, 29 Agustus 2015

Merayakan 70 Tahun Indonesia Merdeka di Negeri Belanda

Semenjak bekerja, setiap tanggal 17 Agustus saya selalu bersorak gembira karena selalu lolos dari jatah upacara bendera di kantor. Soalnya, di kantor pusat upacaranya lintas direktorat sehingga tidak memungkinkan kalau semua pegawai ikut serta. Solusinya, masing-masing bagian hanya diminta mengirimkan beberapa orang perwakilan. Berhubung di bagian saya mayoritas lelaki, maka sebagai perempuan saya selalu aman dari jatah upacara, bahkan sejak masih berstatus anak baru :P . Pokoknya, tiap libur 17 Agustusan itu jatah pulang kampung buat saya, hehehe.

Tapi tahun ini spesial. Saya bela-belain perpanjang waktu tinggal di Belanda, demi bisa ngerasain perayaan hari kemerdekaan di sini, di negeri yang dulu menjajah kita. Penasaran, seperti apa auranya.

Makin penasaran, ketika selama kelas Dutch Culture, beberapa kali histori penjajahan Belanda di Indonesia disebut-sebut. Ketika berbicara tentang hubungan 2 pihak, saya selalu tertarik mencoba mendengar dari 2 sisi. Cover both side. Ibaratnya, kayak ndengerin curhatan putusnya sahabat kita yang pacaran. Pasti adaaa aja yang beda antara cerita dari pihak cowok dengan dari pihak ceweknya kaaan? * jauh amat sih perumpamaannya, tapi iyain aja biar cepet :P .

Selasa, 25 Agustus 2015

Akhir Course dan Mulai Ngebolang


Karena Waktu Bukanlah Karet

Kalau ada satu keajaiban yang boleh saya minta, saya selalu berkhayal ingin punya kemampuan meng-elastiskan waktu. Pasti menyenangkan kalau momen-momen menyenangkan bisa kita ulur memanjang, seperti sebuah karet :D Sebelum berangkat ke Belanda saya sudah merasa kalau kemenangan di Holland Writing Competition 2015 merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar. Gimana gak besar? Jalan-jalan gratis ke Eropa sebulan full gitu lho hehehe. Setelah sampai di sini, setelah mengikuti course-nya, saya sadar kalau ini merupakan anugerah yang lebih daripada luar biasa. Banyak hal berharga yang saya dapat di sini yang leeebiiiih dari sekedar jalan-jalan gratis. Diskusi-diskusi seru dan penuh respek di kelas, teman-teman yang udah mulai berasa kayak saudara, plus hawa Utrecht yang sejuk banget bikin saya merasa berat ketika hari-hari akhir course semakin mendekat.

Kamis, 13 Agustus 2015, hari ujian akhir course. Bentuk ujiannya nggak jauh beda dengan ujian sebelumnya, jadi alhamdulillah saya cukup lancar mengerjakannya. Selesai ujian, seperti biasa kami sepakat buat masak dan makan malam bareng di salah satu flat. Sekitar jam 8 malam, kami mulai kumpul membawa bahan makanan masing-masing. Jadi,bahan makanannya ini emang kami beli patungan, tapi yang masak bergantian setiap malam. Kali ini yang dapat giliran masak adalah MK, Joo, sama Eric. Jangan bayangin kami masak menu-menu ala restaurant. Bukan soal spesialnya menu, melainkan kebersamaan berbalut joke-joke dan sharing ringanlah yang membuat acara makan malam ini selalu istimewa. Sedih banget makanya pas sadar kalo ini malam terakhir kami bisa masak dan makan malam bareng-bareng di dapur Cambridgelaan :( Selesai makan, kami ngobrol lamaaa banget. Di tengah-tengah obrolan, teman kami yang dari Meksiko, Paulina, ngelirik ke meja dapur dan ngeliat peralatan masak masih berantakan. Dia langsung inisiatif mau mulai nyuci piring. Eric, dengan gaya sok-sok bossy sambil cengar-cengir langsung negur, “Paulina, what are you doing? Back to your seat!”. Eric bener juga sih. Intinya, malam itu kita cuma pengen menikmati sisa-sisa waktu untuk bersama. Urusan cuci piring, biarlah nanti :’) .

Sabtu, 08 Agustus 2015

Simpelnya Halte Bus OV

Siang tadi, saat naik bus OV, saya melihat seorang penumpang perempuan naik bus membawa sepeda lipatnya. Sebenarnya, hal kayak gini lazim terjadi di sini. Di dalam bus OV, ada satu sudut dimana penumpang bisa meletakkan sepeda/trolley bayi, dan sudut itu dilengkapi semacam sabuk pengaman agar sepeda/trolley bayi itu tidak bergerak selama dalam perjalanan. Bukan baru sekali ini saya melihat ada penumpang yang melakukan hal tersebut. Tetapi, nggak tahu kenapa, tadi siang saya tiba-tiba langsung kepikiran gimana seandainya kita mau melakukan hal yang sama di bus Transjakarta. Mungkinkah? (Plis, jangan pasang backsound "mungkinkah... kita kan slalu bersama... walau terbentang jarak antara kita..." . Saya lagi serius... SE..RI..US... :P :P :P )


Emmm, jawabannya mungkin aja sih. Dengan syarat, petugasnya gak melarang. Soalnya, desain bus Transjakarta kan bukan kayak metromini yang udah penuh sesak sama kursi. Bagian tengah bus Transjakarta adalah ruang kosong, jadi kalo penumpang mau bawa sepeda 5 biji pun masuk-masuk aja, asal jangan di jam sibuk. Atau, boleh deh di jam sibuk, asal tahan menghadapi pelototan mata orang-orang yang seolah berkata "sepeda siapa sih nih? berani-beraninya ngambil ruang berdiri gue", wkwkwk. Masalahnya, untuk bisa masuk ke bus Transjakarta, si pembawa sepeda itu butuh usaha lebih. Dia harus berolahraga terlebih dahulu : ndorong sepeda naik ke atas jembatan penyeberangan, lalu ndorong lagi turun menuju halte busway :P

Trip to The Hague

Saat kita mengajukan pertanyaan, kota manakah yang menjadi ibukota Belanda, beberapa orang ada yang tidak yakin dengan jawabannya. Mereka ragu-ragu antara Amsterdam atau The Hague (alias Den Haag). Jawaban yang benar tentu saja Amsterdam. Namuuuun, wajar sih kalo orang ada yang berpikir The Hague adalah ibukota Belanda. Sebab, pusat pemerintahan Belanda memang berada di kota ini. Yup, Belanda adalah satu dari sedikit negara yang pusat pemerintahannya tidak berada di ibukota.

Nah, ceritanya, kemarin kelas kami mengadakan day trip ke The Hague! Tiap kali day trip begini saya pasti semangat. Marteen, dosen kami, selalu tahu spot-spot terbaik yang worth-it untuk dikunjungi di masing-masing kota. Nggak heran lah yaa, doi kan master sejarah dan sehari-hari memang ngajar di fakultas Humanities, Universiteit Utrecht :P . Jadi banyak detail-detail menarik yang dia tahu dan diceritain sepanjang perjalanan.